Banyak Digunakan dalam Kuliner Nusantara, termasuk Tahu

Kapanlagi Plus – Kecap manis selama banyak dijumpai dalam berbagai kuliner nusantara. Dari tongseng kambing yang begitu mantap rasanya, haruan masak kecap yang populer di Kalimantan Selatan, semur tahu pedas asal Sumatera Utara hingga ayam parape khas Makassar.

Jangan lupa juga tahu telur asal Jawa Timur yang kini banyak dijumpai di mana-mana, termasuk kota besar Hal ini belum ditambah kuliner Indonesia populer macam bakso, siomay, batagor, bubur ayam dan masih banyak lagi. Semua makanan tersebut menggunakan kecap manis.

Lantas, pernahkah kamu berpikir, bagaimana kecap manis ini bermula? Biar tak lagi bertanya-tanya, yuk perkaya wawasan dengan mengulik sejarahnya berikut ini!

1. Sudah Ada Sejak Sebelum Masehi

Diperkirakan kecap sudah ada sejak 300 tahun sebelum masehi. Akan tetapi di masa Romawi bahan satu ini tidak seperti kecap, melainkan liquamen. Bangsa Romawi menggunakannya sebagai penyedap rasa makanan, agar lebih lezat disantap.

Di masa itu, liquamen ini tidak dibuat dari kedelai hitam, melainkan dari jenis petis ikan, tepatnya petis teri, cuka, minyak dan juga merica. Memasuki abad ke-16, tepatnya pada 1690, saus serupa liquamen diketahui juga digunakan di Tiongkok.

Di Tiongkok bahan tersebut disebut sebagai ke’tsiap. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Tiongkok mulai mengembangkan ke’tsiap dari kacang kedelai hitam. Sejak saat itu, kedelai hitam dijadikan bahan baku utama untuk membuat persiapan ini.

2. Awal Mula Kecap di Indonesia

Masuknya para saudagar Tiongkok ke Nusantara turut memengaruhi khazanah kuliner Indonesia. Tidak dengan kecap ini sendiri. Masyarakat Tiongkok banyak yang menjual ke’tsiap ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Proses tersebut dilangsungkan para saudagar Tiongkok yang datang ke Indonesia dengan cara barter. Mereka menukarkan berbagai komoditas dari Tiongkok, termasuk persiapan dengan olahan khas Indonesia maupun hasil bumi dari tanah air.

3. Warga Lokal Tidak Langsung Suka

Hanya saja, rasa ke’tsiap yang dibawa saudagar Tiongkok yang menepi di tanah Jawa tidak langsung diterima oleh masyarakat lokal. Hal ini karena ke’tsiap yang dibawa dari Tiongkok masih berupa kecap asin.

Sementara warga lokal ternyata kurang suka dengan cita rasa kecap asin ini. Seolah tak kehabisan akal, orang-orang Tiongkok setelah itu menambahkan gula kelapa. Jadilah kecap manis yang kemudian dikenal sampai sekarang.

Oleh karena masyarakat lokal kesulitan melafalkan ke’tsiap, maka terciptalah kata kecap yang lebih mudah diucapkan. Rasa kecap manis pun terus berkembang, hingga akhirnya lebih sesuai selera masyarakat Indonesia.

4. Pelopor Produsen Kecap Manis di Indonesia

Perkembangan kecap manis di Indonesia ini sangat pesat, hingga pada tahun 1882 dibangunlah pabrik kecap pertama yang berlokasi di Pasar Lama, Tangerang. Pabrik kecap ini dikelola oleh Teng Hang Soey.

Menariknya, sampai saat ini pabrik kecap ini masih beroperasi, sehingga pabrik kecap tertua di Indonesia. Hanya saja, mereknya sudah berubah. Tak lagi menggunakan nama kecap Teng Giok Seng, melainkan Kecap Banteng Cap Istana.

Di samping merek tersebut, di Tangerang juga ada Kecap Banteng Cap SH atau yang populer dikenal sampai saat ini dengan nama Kecap Benteng. Produk kecap ini dibuat oleh Lo Tjit Siong dan dipopulerkan oleh masyarakat peranakan di kota Tangerang. Bahkan, produk ini boleh dibilang bagian dari sejarah masyarakat peranakan di Tangerang.

Tidak hanya di Tangerang, pabrik kecap kemudian mulai bermunculan di tempat lain. Pada tahun 1889, Ong Tjin Boen mendirikan pabrik kecap di Probolinggo, Jawa Timur. Pabrik tersebut memproduksi kecap dengan merek dagang Kecap Cap Orang Jual Sate.

Sekarang sudah tahu kan, jika kecap manis ini ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Tiada yang mengira juga jika kecap manis merupakan modifikasi dari kecap asin yang lebih dulu dikreasikan. Kalau kamu sendiri, lebih suka kecap manis atau kecap asin?

Share This Post