Menjaga Pegunungan Tengah Papua

Jakarta

Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan Rancangan Undang-Undang pembentukan 3 provinsi baru yaitu Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Hal ini menyebabkan jumlah provinsi di Pulau Papua bertambah menjadi 5 sedangkan di Indonesia menjadi 37. Provinsi Papua Selatan akan beribu kota di Merauke, Papua Tengah di Nabire, dan Papua Pegunungan di Jayawijaya.

Pemekaran bertujuan untuk membangun di bagian pegunungan dan selatan Pulau Papua. Pembangunan di Papua relatif masih tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Bahkan, lebih dari berhasil kabupatennya termasuk dalam kategori daerah tertinggal. ketersediaan sarana prasarana dasar, kualitas sumberdaya manusia, dan aksesibilitas wilayah masih menjadi tantangan di Papua.

Kawasan yang berada di provinsi hasil pemekaran adalah Pegunungan Tengah Papua. Pegunungan tengah memiliki peran vital bagi ekosistem, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi layak tinggi. Orientasi pembangunan yang berkelanjutan harus dilandasi pengembangan provinsi baru di Pulau Papua.

Dampak Pemekaran

Daerah otonom baru (DOB) pasti membutuhkan pembangunan berbagai sarana prasarana, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Fasilitas pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan jaringan transportasi perlu dibangun untuk mendukung kegiatan pemerintahan dan masyarakat. Pusat-pusat pertumbuhan baru akan muncul seiring dengan berjalannya proses pembangunan di DOB.

Pusat pertumbuhan menimbulkan perkembangan di wilayah sekitarnya seperti kawasan yang digunakan atau perekonomian sehingga memicu alih fungsi lahan. DOB juga harus mencari sumber pendapatan daerah untuk pembiayaan pembangunan. Pemanfaatan sumber daya alam menjadi alternatif paling cepat untuk mendapatkan pajak atau dana bagi hasil.

Pegunungan Tengah memiliki potensi mineral dan bahan yang dipamerkan besar. Apalagi proses perijinan akan semakin ringkas dengan adanya sistem Online Single Submission (OSS) dan kewenangan berada di pemerintah pusat. Kondisi ini perlu diperhatikan, jangan sampai ekonomi daerah bergantung pada eksplorasi sumber daya alam.

Strategi Peran

Pengembangan pasca pemekaran perlu memperhatikan aspek kehancuran. Hal ini karena Pegunungan Tengah memiliki peran strategis bagi ekosistem di Pulau Papua. Pegunungan Tengah termasuk dalam Taman Nasional (TN) Lorentz yang melingkupi kabupaten dalam pemekaran provinsi baru yaitu Asmat, Yahukimo, Jayawijaya, dan Mimika.

Kawasan hutan di TN Lorentz dianggap memiliki salah satu yang masih alami selain hutan di Pulau Kalimantan. Selain itu, TN Lorentz merupakan taman nasional terluas dan terlengkap ekosistemnya di wilayah Asia Tenggara.

“Paru-paru dunia” menjadi fungsi paling penting dari kawasan hutan di Pegunungan Tengah. Perubahan iklim akibat proses deforestasi dan industrialisasi membutuhkan oase untuk menjaga suhu bumi. Manfaat lainnya sebagai wilayah resapan air dan pengurangan bencana juga perlu dilestarikan.

Selain itu, Pegunungan Tengah merupakan habitat flora fauna langka di Indonesia seperti Dingiso (Dendrolagus mbaiso). Terdapat 1.200 tumbuhan berbunga, 123 spesies mamalia, 411 spesies burung, dan 150 spesies reptil dan amfibi. Bahkan terdapat 5 spesies burung sebaran terbatas dan sembilan spesies burung endemik.

Belajar dari Pengalaman

Banyak bukti daerah hasil pemekaran masih tergantung pada dana bagi hasil sektor eksplorasi alam. Perizinan untuk kegiatan pertambangan, perkebunan, dan sektor lainnya meningkat drastis setelah menjadi DOB. Pembangunan yang jangka pendek akan menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.

Deforestasi menyebabkan berkurangnya resapan air serta bencana seperti banjir dan tanah longsor. Fungsi sebagai paru-paru dunia akan menurun akibat sebagian tutupan vegetasi hutan. Dampak yang dirasakan tidak hanya lingkup lokal bahkan regional pulau.

Orientasi pembentukan provinsi baru diharapkan memang bertujuan untuk memajukan masyarakat Papua. Jangan sampai berubah demi kepentingan kelompok dan jangka pendek sehingga menggunakan cara yang eksploitatif. Masyarakat asli papua hanya akan menjadi korban dan tidak merasakan dampak positif dari pemekaran. Keindahan alam Papua yang terkenal harus dilestarikan demi kesejahteraan masyarakat asli Papua.

Gilang Adinugroho alumnus Fakultas Geografi UGM, konsultan Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Lingkungan Hidup

(mmu/mmu)

Share This Post