Menyongsong Kebangkitan Pariwisata

Menyongsong Kebangkitan Pariwisata

Dua daerah sentral budaya, Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dan Jawa Tengah, juga merasakan dampak parah. Angka kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, menurun drastis.

Terpuruknya sektor pariwisata itu juga menimbulkan efek berantai terhadap industri lain seperti hotel dan restoran maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng dan DIJ, total hunian hotel di Jateng hingga September 2021 hanya 34,68 persen, sedangkan di DIJ sebanyak 36,64 persen. Mereka pontang-panting untuk sekadar bertahan hidup.

Meneropong Tren Investasi Saham 2022

Yang perlu disadari, pandemi telah mengubah perilaku masyarakat. Situasi bakal sulit kembali normal mengingat ancaman virus korona belum sepenuhnya hilang.

Karena itu, para pelaku bisnis pariwisata harus benar-benar siap menghadapi era baru alias next new normal. Mereka dituntut kreatif mengubah ancaman kebangkrutan akibat pandemi menjadi peluang.

Harapan bertunas seiring dengan dimulainya vaksinasi Covid oleh pemerintah sejak awal 2021. Angka kasus penularan Covid makin melandai sejalan dengan meratanya capaian vaksinasi, meski kasus sempat meroket pada pertengahan 2021. Para pelaku usaha pariwisata harus bisa membangun optimisme itu dengan beradaptasi mengikuti perubahan perilaku wisatawan.

Diperlukan perubahan konsep destinasi wisata yang bisa memenuhi tuntutan wisatawan. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.

Sertifikasi cleanliness, health, safety, and environment (CHSE) yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan menjadi pertimbangan utama wisatawan dalam menentukan destinasi. Untuk itu, pengelola tempat wisata perlu cepat meresponsnya dengan menyiapkan sarana-prasarana protokol kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), keselamatan (safety), dan kelestarian lingkungan (environment) di tempat usaha mereka.

Selain itu, pandemi telah mengakrabkan masyarakat dengan teknologi digital. Pelaku usaha wisata bisa memaksimalkan konsep digital ini untuk memasarkan paket wisata secara online. Mulai penawaran promo, pemesanan tiket, hingga kebutuhan akomodasi. Selain memudahkan wisatawan dalam bertransaksi, konsep digital ini aman karena menghindarkan mereka untuk saling kontak langsung.

Untuk konsep ini, pekan lalu Pemprov DIJ meluncurkan aplikasi Visting Jogja. Aplikasi yang memiliki fitur lengkap tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan akses bagi wisatawan. ’’Bukan hanya objek wisata, melainkan juga mau makan di mana, mau tidur di hotel mana, semua ada. Apa pun yang menjadi kebutuhan wisatawan terjawab di Visiting Jogja. Nggak bawa duit, tetap bisa bayar asalkan di HP-nya ada saldo.’

Pelaku usaha wisata juga dituntut kreatif menciptakan konten-konten baru di destinasi wisata mereka. Dalam kondisi pandemi ini, konsep wisata alam masih akan menjadi destinasi favorit masyarakat. Selain kesegaran suasana, wisata alam dinilai lebih aman dari persebaran Covid karena lokasinya terbuka. Supaya tidak monoton, pengelola bisa menambahkan atraksi kesenian atau budaya di lokasi wisata tersebut untuk memuaskan pengunjung. Hitung-hitung juga menggerakkan para pekerja ekonomi kreatif yang selama ini terpukul pandemi.

Yang tak kalah penting pula adalah dukungan pemerintah daerah (pemda) setempat. Pemda harus hadir dengan memberikan pembinaan dan pengawasan, terutama terhadap penerapan protokol kesehatan. Mereka harus tegas memperingatkan atau memberikan sanksi kepada pengusaha pariwisata yang mengabaikan standar protokol kesehatan. Dengan demikian, wisatawan akan merasa makin terjamin keamanannya.

Tahun 2022 diprediksi menjadi kebangkitan usaha pariwisata. Saat ini gairah masyarakat untuk pelesir, tampaknya, sudah tak terbendung. Mereka sudah jenuh lantaran selama ini terkungkung oleh segala aturan pembatasan yang mengharuskan diri lebih banyak berdiam di rumah.

Tanda-tanda kebangkitan itu sebenarnya sudah tampak dalam dua bulan terakhir. Wisatawan menyerbu sejumlah destinasi wisata di seputar DIJ dan Jateng. Jajaran pantai di pesisir selatan Jogjakarta dan pantai utara Jawa Tengah ramai pengunjung. Demikian pula wisata kota seperti Malioboro di Jogjakarta dan Kota Lama di Semarang.

Semoga libur akhir tahun kemarin tidak kembali membawa lonjakan kasus Covid sehingga tren positif ini bisa terus melaju. (*)Dua daerah sentral budaya, Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dan Jawa Tengah, juga merasakan dampak parah. Angka kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancaneg

Terpuruknya sektor pariwisata itu juga menimbulkan efek berantai terhadap industri lain seperti hotel dan restoran maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng dan DIJ, total hunian hotel di Jateng hingga September 2021 hanya 34,68 persen, sedangkan di DIJ sebanyak 36,64 persen. Mereka pontang-panting untuk sekadar bertahan hidup.

Yang perlu disadari, pandemi telah mengubah perilaku masyarakat. Situasi bakal sulit kembali normal mengingat ancaman virus korona belum sepenuhnya hilang.

Karena itu, para pelaku bisnis pariwisata harus benar-benar siap menghadapi era baru alias next new normal. Mereka dituntut kreatif mengubah ancaman kebangkrutan akibat pandemi menjadi peluang.

Harapan bertunas seiring dengan dimulainya vaksinasi Covid oleh pemerintah sejak awal 2021. Angka kasus penularan Covid makin melandai sejalan dengan meratanya capaian vaksinasi, meski kasus sempat meroket pada pertengahan 2021. Para pelaku usaha pariwisata harus bisa membangun optimisme itu dengan beradaptasi mengikuti perubahan perilaku wisatawan.
Baca juga:
Dua Pasien Covid-19 Varian Omicron di Jatim Baru Pulang dari Bali

Diperlukan perubahan konsep destinasi wisata yang bisa memenuhi tuntutan wisatawan. Sebagaimana kita ketahui, pandemi telah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Wisatawan akan cenderung memilih destinasi wisata yang bisa menjamin keamanan mereka dari tertular virus korona.

Sertifikasi cleanliness, health, safety, and environment (CHSE) yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan menjadi pertimbangan utama wisatawan dalam menentukan destinasi. Untuk itu, pengelola tempat wisata perlu cepat meresponsnya dengan menyiapkan sarana-prasarana protokol kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), keselamatan (safety), dan kelestarian lingkungan (environment) di tempat usaha mereka.

Selain itu, pandemi telah mengakrabkan masyarakat dengan teknologi digital. Pelaku usaha wisata bisa memaksimalkan konsep digital ini untuk memasarkan paket wisata secara online. Mulai penawaran promo, pemesanan tiket, hingga kebutuhan akomodasi. Selain memudahkan wisatawan dalam bertransaksi, konsep digital ini aman karena menghindarkan mereka untuk saling kontak langsung.
Baca juga:
Omicron Meluas di AS, New York Pecah Rekor Tertinggi selama Pandemi

Untuk konsep ini, pekan lalu Pemprov DIJ meluncurkan aplikasi Visting Jogja. Aplikasi yang memiliki fitur lengkap tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan akses bagi wisatawan. ’’Bukan hanya objek wisata, melainkan juga mau makan di mana, mau tidur di hotel mana, semua ada. Apa pun yang menjadi kebutuhan wisatawan terjawab di Visiting Jogja. Nggak bawa duit, tetap bisa bayar asalkan di HP-nya ada saldo.’’ Begitu kata gubernur DIJ yang juga Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pelaku usaha wisata juga dituntut kreatif menciptakan konten-konten baru di destinasi wisata mereka. Dalam kondisi pandemi ini, konsep wisata alam masih akan menjadi destinasi favorit masyarakat. Selain kesegaran suasana, wisata alam dinilai lebih aman dari persebaran Covid karena lokasinya terbuka. Supaya tidak monoton, pengelola bisa menambahkan atraksi kesenian atau budaya di lokasi wisata tersebut untuk memuaskan pengunjung. Hitung-hitung juga menggerakkan para pekerja ekonomi kreatif yang selama ini terpukul pandemi.

Yang tak kalah penting pula adalah dukungan pemerintah daerah (pemda) setempat. Pemda harus hadir dengan memberikan pembinaan dan pengawasan, terutama terhadap penerapan protokol kesehatan. Mereka harus tegas memperingatkan atau memberikan sanksi kepada pengusaha pariwisata yang mengabaikan standar protokol kesehatan. Dengan demikian, wisatawan akan merasa makin terjamin keamanannya.
Baca juga:
Ada 1 Pasien Omicron di Jatim, Satgas Covid-19 Minta Warga Tak Panik

Tahun 2022 diprediksi menjadi kebangkitan usaha pariwisata. Saat ini gairah masyarakat untuk pelesir, tampaknya, sudah tak terbendung. Mereka sudah jenuh lantaran selama ini terkungkung oleh segala aturan pembatasan yang mengharuskan diri lebih banyak berdiam di rumah.

Tanda-tanda kebangkitan itu sebenarnya sudah tampak dalam dua bulan terakhir. Wisatawan menyerbu sejumlah destinasi wisata di seputar DIJ dan Jateng. Jajaran pantai di pesisir selatan Jogjakarta dan pantai utara Jawa Tengah ramai pengunjung. Demikian pula wisata kota seperti Malioboro di Jogjakarta dan Kota Lama di Semarang.

Semoga libur akhir tahun kemarin tidak kembali membawa lonjakan kasus Covid sehingga tren positif ini bisa terus melaju. (*)

Share This Post