Pantai Karang Paranje

Pantai Karang Paranje

Asal usul nama Karang Paranje

Pantai Karang Paranje merupakan salah satu objek wisata yang letaknya berada di daerah Pameungpeuk kecamatan Cibalong kabupaten Garut.  Karang paranje juga mengandung kisah atau nilai yang legendaris. Tempat ini disebut dalam “Kisah Prabu Kiansantang”. Dalam kisah itu, disebutkan dahulu Prabu Kiansantang dan saudaranya serta paman Lengser sedang beristirahat di Karang Paranje setelah melakukan perjalanan dari tanah sancang ke pantai.

Disana paman lengser menceritakan sebuah kisah seorang gadis yang cantik yang melarikan diri karna tidak mau dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Gadis itu bersembunyi dibalik karang bersama ayam kesayangannya. Kemudian ia ditemukan di karang tersebut bersama kurungan ayam dan ayam kesayangannya. Karena itu, pantai ini disebut Karang Paranje. Karang yang berarti karang yang berada di pesisir pantai dan paranje yang berarti kurungan ayam.

Kegiatan masyarakat disekitar pantai Karang Paranje

Kegiatan yang dapat kita jumpai ketika kita berwisata ke pantai Karang Paranje adalah kegiatan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat sekitar dalam menangkap ikan pada musim kemarau atau disebut dengan ngala lauk. Penangkapan ikan pada musim kemarau ini sangat unik yaitu pertama, jenis ikan yang ditangkap adalah ikan dengan punggung berwarna hijau (lauk tonggong hejo) karna pada saat musim kemarau ikan-ikan tersebut terbaru arus ombak sampai ke tepian pantai. Kedua, kegiatan ini dilakukan pada saat malam hari hingga dini hari.  Ketiga kegiatan ini dapat dilakukan oleh masyarakat umum. Keempat, kegiatan ini dilakukan hanya untuk bersenang-senang. Jika seorang penangkap ikan mendapat ikan yang banyak, ikan-ikan itu tidak dijual tetapi akan dibagi-bagikan kepada siapa saja yang mau.

Deskripsi kegiatan menangkap ikan (ngala lauk)

Selepas waktu isya, masyarakat sekitar baik perempuan maupun laki-laki yang sudah dewasa maupun anak-anak berbondong-bondong menuju pantai. Pada umumnya mereka berjalan kaki membawa obor atau senter dan alat penangkap ikan seperti jala dan bakul untuk menyimpan hasil tangkapan mereka.  Selain itu, mereka juga membawa tempurung kelapa yang akan dibakar untuk membuat api unggun. Api unggun ini berguna untuk memberikan cahaya dimalam yang gelap dan menghangatkan tubuh karna angin pantai yang kencang dan untuk membakar langsung ikan tangkapan mereka saat itu.

Jika ikan yang didapat lebih, maka ikan itu dibawa pulang dan dijadikan ikan asin atau dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar. Kegiatan menangkap ikan punggung hijau ini sudah dilakukan sejak zaman dahulu dan masih dilakukan sampai sekarang.

Share This Post